TRANSLATOR BAHASA

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

POSTING TERPOPULER

Thursday, November 25, 2010

MENGHADAPI KEMATIAN (DIKDIK in MEMORY)

Perenungan Shakespeare telah berada di arah yang benar ketika ia bergumam:
"Kita bagaikan obyek mimpi. Bertumbuh besar, pergi ke sekolah, menikah, mempunyai anak, mencari dan membelanjakan uang, menjadi tua. Dan hidup kita yang singkat ini digenapi dengan tidur.? Hanya kali ini kita mungkin bisa melanjutkan jawabannya yang tidak selesai itu. kematian adalah transisi dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Bahkan dari sebuah mimpi dari sebuah realitas virtual- ke realitas yang sejati. Dan kepada T.S. eliot, kita dapat dengan yakin mengatakan: di ujung jembatan London itu, terhampar dunia baru di mana cahaya bersinar terang-benderang, dan tak pernah padam."


DIK DIK TINGGAL KENANGAN yang Indah untuk tetap terkenang...
Aku merasakan kesedian yang dalam bagi keluarga besarku malam ini , terlebih bagi kakak tertua-ku sebagai ayah yang baru saja kehilangan seorang anaknya yang paling besar.. saat keponakanku itu pergi,
dia keponakanku salah satu yang terbaik yang aku miliki, seorang cucu soleh bagi kedua orang tuaku, dan salah satu anugrah sebagai keturunan kakaku yang pernah dia miliki.

Ya.. Sore kemaren sekitar jam 17.00 WIB Dik dik telah pergi menghadap panggilan sang Kholik penguasa kehidupan dan kematian kita. belum juga setahun aku merayakan pernikahannya dengan istri-nya yang cantik dan sholehah, serasa baru kemarin aku menyaksikan kakaku menimang bangga ketika dia terlahir ke muka bumi, bagaikan detik tadi aku melihatnya berkaca mata dengan senyum bangga berangkat sekolah berseragam warna putih dan merah ati, namun pagi ini aku harus menyambut pagi dengan kenyataan bahwa dia telah tiada, takan pernah lagi ku lihat senyum dan sapa-nya, takan berasa lagi jabat tangannya saat kami berkumpul di hari raya.

selamat jalan saudaraku, selamat istirahat disisi Tuhan-mu dan Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Rebahkanlah lelah-mu di sisinya, nikmatilah sorgamu dalam Rangkul sang Illahi Robby..

Sungguh sakit sekali rasanya kehilangan orang-orang terdekat kita. Menjadi hal yang wajar di tengah masyarakat saat kepergian orang yang dicintai kita menangis meraung-raung. Namun apakah kita sadar, bahwa yang meninggal itu jauh lebih sakit daripada yang ditinggal? Sadarkah kita bahwa kita nanti akan mengalami hal demikian? Apa amal kebaikan utama yang kita persiapkan untuk menolong kita dari siksa setelah kematian?

Kematian...!
Sesuatu yang pasti adanya, dan pasti akan menghampiri setiap mahluk yang bernyawa..
Allah yang memberi kita kehidupan dan Allah pulalah yang akan mematikan kita.

“Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun”  (QS Al-Mulk [67]: 1-2).

Kematian bukanlah ketiadaan hidup secara mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia, dalam arti bahwa manusia yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.
  • FIRMAN ALLAH :
“Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS. Ali-’Imran [3]: 169).
“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa ‘mereka itu telah mati,’ sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS Al-Baqarah [2]: 154)

Kematian akan datang kepada kita kapan saja dan dimana saja, tanpa seorangpun yang tahu waktunya, kecemasan akan kematian meruntuhkan segala apa yang ingin kita miliki di muka bumi ini, namun tidak bagi seorang Muslim yang Taqwa :
“Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain, sebagaimana dirtwayatkan bahwa, “Sesungguhnya kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian harus berpindah dan satu negen ke negen (yang lain) sehingga kalian menetap di satu tempat.” (Abdul Karim AL-Khatib, I:217)

Kematian tidak dapat ditolak seperti kehidupan permainan dunia yang dapat seenaknya kita terima dan tolak. Mau tak mau, tidak bisa tidak, kematian pasti terjadi. Kita tidak dapat lari atau bersembunyi menghindari kematian.

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya."(QS Al-An'am [6]: 93).

Manusia dapat “menghibur” dirinya dalam menghadapi kematian dengan jalan selalu mengingat dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak seorang pun akan luput darinya, karena “kematian adalah risiko hidup.
” Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa, “Setiap jiwa akan merasakan kematian?” (QS Ali ‘Imran [3]: 183)
“Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS Al-Anbiya’ [21]: 34)

Keyakinan akan kehadiran maut bagi setiap jiwa dapat membantu meringankan beban musibah kematian. Karena, seperti diketahui, “semakin banyak yang terlibat dalam kegembiraan, semakin besar pengaruh kegembiraan itu pada jiwa; sebaliknya, semakin banyak yang tertimpa atau terlibat musibah, semakin ringan musibah itu dipikul.”
Demikian Al-Quran menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia taat dan durhaka, dan demikian kitab suci menginformasikan tentang kematian yang dapat mengantar seorang mukmin agar tidak merasa khawatir menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan. Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya. AMIN.

No comments:

Post a Comment

KOMENTAR ANDA SANGAT BERGUNA BAGI PENGEMBANGAN BLOG KAMI
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda disini,
Dengan cara :
1. Ketik Komentar anda pada kotak komentar
2. Klik Postkan Komentar,
3. Klik logo google akun/mendaftar google akun bagi yang belum memiliki google akun,
Apabila komentar dianggap menghina suku/ras/golongan atau bersipat Melecehkan.. maka kami dengan terpaksa akan menghapusnya/tdk menayangkannya.
Terimakasih atas kunjungannya